Kreasi Shalawat dan Nasab Santri PPMS Memukau, Pesan Maulid: Jaga Akhlak dan Jangan Jadi Provokator dalam Kejelekan

Palembang — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampus 1 Pondok Pesantren Muqimus Sunnah (PPMS) berlangsung semarak pada Senin (31/8/2026) malam. Para santri menghadirkan kreasi shalawat dan kreasi nasab dengan memadukan unsur teaterikal, musik sederhana, dan pesan keislaman.

Kegiatan yang berlangsung pukul 20.00–22.00 WIB tersebut diikuti seluruh santri dan asatidz PPMS. Penampilan para santri menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian karena mereka mampu mengolah berbagai benda sederhana di sekitar menjadi instrumen pengiring shalawat.

Santri Sulap Benda Sederhana Jadi Alat Musik

Para santri memanfaatkan berbagai benda yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti tutup box, hanger, wadah air, centong air, dan sejumlah peralatan lainnya untuk menghasilkan irama.

Kreativitas tersebut membuat penampilan santri tampil berbeda. Mereka tidak sekadar menyajikan lantunan shalawat, tetapi juga memadukannya dengan unsur teaterikal, gerak, dan ekspresi untuk memperkuat pesan yang disampaikan.

Perpaduan tersebut menghasilkan pertunjukan yang atraktif sekaligus menghibur. Melalui kreasi shalawat dan nasab, para santri juga mendapat ruang untuk mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui seni dan kreativitas.

Pesan Maulid: Jaga Akhlak dan Jangan Sebarkan Keburukan

Di balik kemeriahan penampilan santri, peringatan Maulid Nabi juga membawa pesan penting tentang akhlak dan keteladanan Rasulullah SAW.

Mudir dan Vice President Pondok Pesantren Muqimus Sunnah mengingatkan para santri agar senantiasa menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Menurut pesan yang disampaikan, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup diwujudkan melalui shalawat dan peringatan Maulid, tetapi juga harus tercermin dalam sikap dan perilaku.

Para santri juga mendapat nasihat agar tidak menjadi bagian dari orang-orang yang menyebarkan keburukan. Mereka diajak untuk tidak menjadi provokator dalam kejelekan, melainkan menjaga lisan, sikap, dan tindakan serta berusaha membawa kebaikan di tengah lingkungan.

Pesan tersebut semakin relevan dengan kehidupan santri yang tidak terlepas dari interaksi sosial, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Para santri diharapkan mampu menggunakan ilmu dan pengaruh yang mereka miliki untuk menyebarkan hal-hal positif, bukan memperkeruh keadaan atau memancing konflik.

Kreativitas Santri Harus Berjalan Bersama Akhlak

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampus 1 PPMS tidak hanya menghadirkan lantunan shalawat dan kreativitas santri. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mengingat kembali Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam membangun akhlak.

Melalui kreasi shalawat dan nasab, para santri menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat mereka ekspresikan melalui cara yang kreatif dan positif. Sementara itu, pesan dari pimpinan pondok menegaskan bahwa kreativitas, kecerdasan, dan kemampuan berkomunikasi perlu berjalan seiring dengan akhlak yang mulia.

Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi menjadi bagian dari pembinaan santri agar tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga mampu menjaga sikap, menggunakan pengaruh secara bijak, dan menghadirkan kebaikan di lingkungan sekitar.

Bagikan Berita ini di Medsos-mu!

Satuan Pendidikan Mu'adalah

Satuan Pendidikan Mu’adalah adalah program pendidikan resmi yang berada dibawah Direktorat Pendidikan Diniyyah dan Pesantren Kementrian Agama RI setelah terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 18 Tahun 2014 disamakan dengan pendidikan Madrasah Tsanawiyyah dan ‘Aliyah yang berada di bawah Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam Kementrian Agama. Jadi, lulusan Satuan Pendidikan Mu’adalah akan mendapatkan ijazah yang bisa digunakan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.

Dalam program Satuan Pendidikan Mu’adalah ini pesantren diberikan kewenangan dan keleluasaan dalam mengatur kurikulum dan sistem pendidikan, serta tidak diikutkan Ujian-ujian kenegaraan. Pesantren dapat secara mandiri merancang pengembangan kompetensi santrinya dengan tetap mendapat ijazah yang diakui oleh negara.