Lebih dari 1.000 Jamaah Hadiri Puncak Haul ke-15 K.H.M. Zen Syukri di Masjid Nurul Hidayah Cinde

PALEMBANG – Lebih dari 1.000 jamaah menghadiri puncak Haul ke-15 K.H.M. Zen Syukri di Masjid Nurul Hidayah Cinde, Palembang, pada Ahad (4/10/2026), bertepatan dengan 22 Rabiul Akhir 1448 H. Sejak pagi, jamaah dari berbagai kalangan memadati masjid untuk mendoakan, mengenang, sekaligus meneladani perjuangan ulama kharismatik asal Palembang yang mendirikan Pondok Pesantren Muqimus Sunnah tersebut.

Kegiatan berlangsung mulai pukul 06.30 hingga sekitar pukul 10.00 WIB. Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Muqimus Sunnah, para santri, alumni, dan masyarakat, haul ini menjadi momentum untuk mengenang jasa K.H.M. Zen Syukri dalam mengembangkan dakwah, pendidikan Islam, dan pembinaan umat.

Puncak haul tahun ini menghadirkan Dr. K.H. A. Fakhrur Rozi Burhan, S.Ag., M.Pd., Ketua Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia (DPP MUI). Kehadiran beliau menambah makna dalam peringatan yang mempertemukan keluarga besar pesantren dan masyarakat untuk mengenang keteladanan sang ulama.

Khatam Al-Qur’an Warnai Rangkaian Haul

Sebelum puncak haul, keluarga besar Pondok Pesantren Muqimus Sunnah bersama masyarakat menggelar khatam Al-Qur’an di sejumlah lokasi. Mereka melaksanakan kegiatan tersebut melalui dua metode, yaitu bil ghaib dan bin nazhar.

Khatam Al-Qur’an bil ghaib merupakan kegiatan membaca Al-Qur’an berdasarkan hafalan tanpa melihat mushaf. Sementara itu, metode bin nazhar dilakukan dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara langsung dari mushaf.

Khatam Al-Qur’an bil ghaib berlangsung di Kampus 1 dan Kampus 3 Pondok Pesantren Muqimus Sunnah, Masjid Nurul Hidayah Cinde, serta kediaman Abah K.H.M. Zen Syukri. Adapun khatam Al-Qur’an bin nazhar dilaksanakan di Kampus 2 Pondok Pesantren Muqimus Sunnah dan MI Ahliyah 2.

Seluruh rangkaian khataman kemudian ditutup dengan doa khatam Al-Qur’an secara serentak pada Ahad pagi pukul 06.30 WIB. Lantunan ayat-ayat suci dan doa mengawali puncak peringatan Haul ke-15 K.H.M. Zen Syukri dalam suasana khidmat.

Jamaah Kenang Perjuangan dan Keteladanan Sang Ulama

Antusiasme jamaah yang mencapai lebih dari seribu orang mencerminkan besarnya perhatian masyarakat terhadap perjuangan K.H.M. Zen Syukri. Mereka datang untuk mendoakan almarhum sekaligus mengenang perannya dalam perjalanan dakwah dan pendidikan Islam di Palembang.

Salah seorang jamaah laki-laki, Ahmad Fauzan, mengatakan bahwa haul menjadi kesempatan untuk kembali mengingat perjuangan dan keteladanan yang diwariskan K.H.M. Zen Syukri.

“Bagi saya, haul ini bukan sekadar mengenang Abah. Ini adalah momentum untuk mengingat kembali perjuangan beliau dan bagaimana kita sebagai generasi penerus bisa menjaga apa yang sudah beliau tanamkan. Mudah-mudahan ilmu dan amal beliau terus mengalir,” ujarnya.

Menurut Ahmad, keberlanjutan kegiatan pendidikan di pesantren dan kehadiran masyarakat dalam haul menunjukkan bahwa perjuangan seorang ulama tetap memberikan pengaruh setelah beliau wafat.

“Walaupun Abah sudah tidak bersama kita, tetapi insyaallah perjuangannya masih terasa. Santri terus belajar, pondok terus berkembang, dan masyarakat masih datang untuk mendoakan beliau. Itu yang membuat saya terharu,” katanya.

Kesan serupa disampaikan Siti Rahmawati, salah seorang jamaah perempuan. Ia mengaku terharu mengikuti rangkaian Haul ke-15 K.H.M. Zen Syukri, terutama saat mengikuti kegiatan khatam Al-Qur’an dan doa bersama.

“Suasananya sangat khidmat. Dari khatam Al-Qur’an sampai acara haul, semuanya terasa penuh dengan doa. Kita datang untuk mendoakan Abah, tetapi sekaligus mengingatkan diri sendiri agar bisa meneruskan kebaikan yang telah beliau ajarkan,” ungkapnya.

Siti berharap peringatan haul dapat membantu generasi muda, khususnya para santri, mengenal lebih dekat sosok dan perjuangan K.H.M. Zen Syukri. Ia juga berharap mereka mampu meneruskan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan sang ulama.

“Semoga anak-anak muda, khususnya para santri, semakin mengenal siapa Abah dan apa yang sudah beliau perjuangkan. Karena mengenal ulama bukan hanya mengetahui namanya, tetapi juga meneruskan nilai-nilai yang beliau ajarkan,” tambahnya.

Meneruskan Warisan Ilmu dan Pengabdian

Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Muqimus Sunnah, Haul ke-15 K.H.M. Zen Syukri bukan sekadar agenda tahunan. Peringatan ini menjadi momentum untuk merawat ingatan terhadap perjuangan sang ulama sekaligus memperkuat komitmen dalam meneruskan nilai-nilai pendidikan, dakwah, dan pengabdian yang telah beliau wariskan.

Semasa hidupnya, K.H.M. Zen Syukri memberikan perhatian besar terhadap pengembangan ilmu agama dan pendidikan umat. Perjuangan tersebut berlanjut melalui Pondok Pesantren Muqimus Sunnah yang terus menjalankan peran pendidikan dan pembinaan generasi penerus.

Warisan seorang ulama tidak hanya tercermin dalam lembaga pendidikan yang beliau dirikan, tetapi juga dalam ilmu, akhlak, dan semangat pengabdian yang terus diamalkan oleh para murid serta generasi berikutnya.

Peringatan Haul ke-15 K.H.M. Zen Syukri pun menjadi pertemuan antara kenangan dan harapan. Jamaah mengenang sosok ulama yang telah berpulang, sekaligus memperbarui tekad untuk menjaga dan meneruskan perjuangannya agar ilmu serta amal yang beliau tinggalkan terus memberikan manfaat bagi umat.

Bagikan Berita ini di Medsos-mu!

Satuan Pendidikan Mu'adalah

Satuan Pendidikan Mu’adalah adalah program pendidikan resmi yang berada dibawah Direktorat Pendidikan Diniyyah dan Pesantren Kementrian Agama RI setelah terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 18 Tahun 2014 disamakan dengan pendidikan Madrasah Tsanawiyyah dan ‘Aliyah yang berada di bawah Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam Kementrian Agama. Jadi, lulusan Satuan Pendidikan Mu’adalah akan mendapatkan ijazah yang bisa digunakan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.

Dalam program Satuan Pendidikan Mu’adalah ini pesantren diberikan kewenangan dan keleluasaan dalam mengatur kurikulum dan sistem pendidikan, serta tidak diikutkan Ujian-ujian kenegaraan. Pesantren dapat secara mandiri merancang pengembangan kompetensi santrinya dengan tetap mendapat ijazah yang diakui oleh negara.